Kamis, 30 March 2017, 23:46:14 WIB

Warga Pidie Jaya Salat Jumat di Luar Masjid

09 December 2016 13:53 WIB - Sumber : - - Editor : Riyon    Dibaca : 906 kali

Sejumlah warga Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, terpaksa menjalankan ibadah salat Jumat di antara reruntuhan bangunan masjid dengan menggunakan terpal dan tikar seadanya. Pengurus Masjid Jami Quba Kecamatan Trenggadeng, Pidie Jaya, Tengku Azmi, mengatakan pihaknya terpaksa menggelar salat Jumat di halaman mesjid karena mesjid tersebut tidak lagi dapat dipergunakan akibat sudah rata dengan tanah.

"Kami terpaksa menggelar salat Jumat di halaman karena masjidnya sudah ambruk. Kami salat di antara puing-puing reruntuhan," kata Azmi seperti diberitakan Antara.

Azmi mengatakan, halaman masjid yang juga dijadikan sebagai posko darurat menampung ratusan warga korban gempa itu sejak tadi malam sudah mulai dibersihkan untuk pelaksanaan Shalat Jumat. Puing-puing reruntuhan sebagian sudah dibersihkan, terpal dari plastik berwarna biru dan tikar sudah dipasang untuk pelaksanaan salat Jumat.

"Walau salat di halaman, tidak mengurangi kekhusukan jamaah," kata Azmi usai pelaksanaan salat Jumat.

Khatib dalam khutbahnya mengutarakan tentang keutamaan bersabar dalam menghadapi cobaan, termasuk dalam menyikapi musibah gempa dahsyat yang mengguncang Aceh. Di tempat terpisah, warga Pidie Jaya lainnya juga menggelar salat jumat di samping reruntuhan Masjid Pangwa, di Kecamatan Meureudu. Mereka pun menggelar terpal, karpet, dan alas seadanya untuk ibadah salat Jumat.

"Salat Jumat digelar di samping masjid," kata Murniati, warga yang tinggal di samping masjid.

Masjid Pangwa adalah salah satu masjid yang roboh akibat gempa 6,4 skala richter yang mengguncang Aceh dan sekitarnya dua hari yang lalu. Masjid Pangwa biasa digunakan oleh warga di tujuh desa. Saat ini kondisi masjid hampir rata dengan tanah. Hanya terlihat bagian atap beton masjid. Sementara bagian dasarnya sudah tidak terlihat lagi.

Meski masjid roboh, namun tak ada korban jiwa. Saat kejadian, jemaah yang ada di dalam masjid dan asrama santri di belakangnya berhamburan. Mereka langsung naik ke atas bukit karena takut gempa akan disusul tsunami. Menurut Murniati, gempa terjadi beberapa saat sebelum subuh. Saat itu para santri sudah banyak yang bersiap menunaikan salat subuh.

"Para santri itu semula hendak Shalat Subuh, namun saat hendak masuk ke masjid terjadi goyangan. Gurunya memerintahkan para santi untuk meninggalkan masjid," kata dia. 

Seperti yang dilansir dari CNN Indonesia, Masjid lainnya yang juga rubuh adalah Masjid Jami Nur Abdullah di Gampong Paruh Keude. Masjid tersebut saat ini juga tak bisa digunakan. Dua alat berat dikerahkan untuk merubuhkan dua masjid tersebut agar bisa direnovasi kembali. Gempa bumi yang menguncang Kabupaten Pidie Jaya sekitar 120 kilometer dari Ibu Kota Provinsi Aceh, Rabu pagi telah merubuhkan ratusan bangunan, bahkan dilapangan jumlah korban masih bertambah.

Data sementara menyebutkan jumlah korban yang sudah berhasil dievakuasi ada korban meninggal sebanyak 103 orang sementara korban luka berat dan ringan mencapai sekitar 8.000 orang. Para korban gempa tersebut, tersebar di enam kecamatan meliputi, Pante Raja, Bandar Dua, Tringgadeng, Meureudu, Bandar Baru dan Alee Glee. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co