Selasa, 27 June 2017, 05:29:50 WIB

Politik Praktis dan Godaannya

19 June 2017 11:35:23 WIB - Sumber : Asrinaldi A - Ketua Program Magister Ilmu Politik, Unand - Editor : Riyon    Dibaca : 74 kali

Catatan untuk Tulisan Prof Dr Duski Samad

Dalam banyak hal, saya setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Prof Dr Duski Samad dalam tulisannya yang berjudul Perilaku Politik Umat (Padang Ekspres, 14/6). Tulisan tersebut adalah tanggapan terhadap tulisan saya yang yang juga dimuat di harian ini di Kolom Teras Ramadhan tanggal 10 Juni lalu.

Secara singkat bisa saya pahami gagasan Prof Duski samad yang berkeinginan agar umat Islam didorong untuk paham dan mengerti politik dan kalau dapat harus mengambil peran dalam proses politik tersebut. Dengan cara seperti ini, maka umat Islam akan bisa menjadi aktor utama dalam menentukan kebijakan berbangsa dan bernegara sehingga secara tidak langsung dapat menegakkan syiar Islam untuk kejayaan Islam.

Memang, selama ini umat Islam hanya menjadi objek para pencari kekuasaan yang hanya dimanfaatkan ketika demokrasi elektoral dilaksanakan. Sayangnya potensi umat Islam dari segi jumlah yang sangat besar ternyata hanya menjadi rebutan partai politik dan politikus agar bisa memenangkan Pemilu atau Pilkada.

Sayangnya, ketika demokrasi elektoral itu usai dilaksanakan dan politikus mulai memegang kekuasaan, mereka pun dilupakan. Ini adalah fakta yang harus disadari oleh umat Islam. Agar tidak terjebak kembali dengan rutinitas politik seperti ini, maka umat Islam harus mengerti politik dan tidak boleh menjauhkan diri dari proses politik yang berlangsung.

Kalau bisa harus mengambil peran dalam proses politik tersebut agar kebijakan yang dibuat bisa menguntungkan umat Islam. Sejarah dunia memang mencatat betapa kegemilangan umat Islam dimulai tatkala pemimpin Islam yang berkuasa dapat memerintah dengan cara yang sangat adil dan bijaksana dalam menyelenggarakan kekuasaannya. Sebut saja Khalifah Umar bin Khatab RA atau Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang diakui kejayaan umat Islam di bawah kepemimpinan mereka.

Tentu umat Islam saat ini merindukan kepemimpinan yang seperti itu. Walaupun dalam realitanya, mencari pemimpin yang seperti itu tidaklah mudah. Figur pemimpin seperti Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Aziz yang disebutkan di atas, bukanlah sosok yang mudah untuk ditemukan dalam kehidupan hari ini. Dalam kehidupan politik kita yang sangat oportunis dan invidualis mencari sosok pemimpin yang mendekati gaya kepemimpinan khalifah di atas sangatlah sulit.

Apalagi, keadaan ini semakin diperburuk dengan cara pikir sebagian umat Islam yang memang antipati dan berusaha menjauhi aktivitas politik praktis yang dianggap tidak sesuai dengan keyakinan mereka. Kebanyakan umat Islam justru memandang praktik politik yang ada disekeliling mereka sangat jauh dari nilai-nilai Islami.

Keadaan ini membuat mereka tidak ingin terseret ke dalam pusaran praktik korupsi, intrik dan tipu muslihat serta manipulasi yang jauh dari nilai ideal kepemimpinan sang khalifah. Bahkan, tidak sedikit pula umat Islam yang khawatir dengan pemimpin mereka ketika ikut “berpolitik” justru akan keluar dari hakikatnya sebagai pemimpin umat. Kuatnya pengaruh politik praktis menyeret mereka ke dalam kasus-kasus yang akhirnya menurunkan wibawanya sebagai pemimpin dalam kehidupan umat Islam.

Rusaknya Sistem Politik

Faktanya, tidak sedikit ulama yang ikut bermain dengan kekuasaan terjebak dengan hal-hal yang bersifat keduniaan. Apalagi para penguasa yang memang secara sengaja “menyeret” ulama dalam pusaran kekuasaan mereka untuk menjustifikasi tindakan politik yang mereka lakukan. Ini bertujuan agar kepentingan yang mereka buat mendapat pembenaran walaupun itu bertentangan dengan keinginan umat Islam.

Karenanya sering terlihat yang terbentuk adalah kuatnya relasi di antara ulama dan umara yang terbentuk dan cenderung saling menguntungkan. Apalagi politikus menyadari betul makna “tidak ada makan siang gratis” sehingga dukungan yang diberikan ulama juga harus dihargai dengan jabatan dan bahkan imbalan materi.

Memang, harus diakui, tidak semua pemimpin umat yang bersikap seperti ini. Akan tetapi, cukup banyak ulama yang akhirnya terjebak dengan “permainan” yang dibuat oleh politikus sehingga melupakan esensi jihad yang harus mereka lakukan dalam sistem politik yang “sudah rusak” tersebut.  Inilah sesungguhnya hakikat Surah Al An’aam ayat 32 yang ternyata senda gurau dunia telah melenakan mereka dari perjuangan yang sebenarnya. 

Allah SWT juga mensinyalir perangai pemimpin umat Islam yang tidak lagi sesuai dengan hakikat jihad yang dilakukan dalam aktivitas politik yang dimasukinya. Dalam Surah At-Taubah ayat 9 Allah SWT berfirman “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” Peringatan ini semakin menegaskan kepada kita bahwa memang ada karakter pemimpin umat Islam yang dengan mudahnya menukar ayat-ayat Al Quran ini dengan kesenangan dunia.

Dapat dibayangkan betapa kuatnya pengaruh dinamika politik praktis ini sehingga mempengaruhi perilaku individu pemimpin Islam itu sendiri. Alih-alih mengambil peran dalam membangun kejayaan Islam, justru pemimpin umat Islam terjebak dengan permainan kekuasaan yang memang menggoda mereka untuk keluar dari tujuan yang sebenarnya.

Mengapa kecenderungan ini terjadi? Salah satu alasannya adalah sistem politik yang kita selenggarakan saat ini memang sudah terlanjur korup. Semua orang yang masuk ke dalam sistem yang korup ini akan terpengaruh sehingga menjadi korup pula. Lihat saja berapa banyak politikus yang terjebak dengan sistem yang korup ini sehingga mereka menjadi korup pula. Korupnya sistem politik ini tidak lain karena yang menonjol adalah kepentingan pribadi dan kelompok politikus yang berkuasa sehingga melupakan tujuan berbangsa dan bernegara. Akibatnya tatanan nilai dalam sistem politik pun menjadi rusak. Contohnya apa yang berlangsung hari ini bagaimana tarik ulur politikus dalam membahas RUU Pemilu di DPR yang perdebatannya hanya memikirkan kepentingan jangka pendek mereka masing-masing.

Memang tidak ada salahnya mendorong umat Islam untuk masuk ke dalam ranah politik praktis dan kalau bisa memang harus menguasai lembaga negara untuk dikendalikan dengan “warna keislaman.” Ini adalah cara berdakwah yang paling efektif sehingga ajaran Islam dapat ditegakkan dengan kekuasaan formal.

Namun, tentunya, sebelum tokoh-tokoh umat Islam itu masuk ke dalam aktivitas politik yang penuh dengan intrik dan tipu muslihat juga harus memiliki komitmen yang kuat dengan perjuangannya serta daya tahan terhadap kuatnya godaan kekuasaan yang ada disekitarnya. Jangankan umat yang hanya biasa-biasa saja beribadah harus memasuki ranah politik, ulama saja ketika berhadapan dengan kekuasaan seringkali “mengalah” sehingga lupa dengan jihad untuk menegakkan kebenaran.

Hemat saya, jika ingin menegakkan kejayaan Islam dalam menyelenggarakan negara ini, tentu tidak hanya terjun ke politik praktis saja. Imbauan dalam bentuk gerakan moral dan teladan yang baik dari pemimpin umat Islam adalah hal yang tidak boleh kita nafikan. Ini juga bagian dari aktivitas politik yang tingkatannya jauh dari sekadar masuk ke dalam dunia politik praktis. Wallahua’lam. (*)

 

LOGIN untuk mengomentari.

© 2014 - 2017 Padek.co