Selasa, 17 October 2017, 20:27:59 WIB

Bahan Bakar Nabati Butuh Insentif Fiskal

13 October 2017 13:22:44 WIB - Sumber : JPNN - Editor : Elsy Maisany    Dibaca : 77 kali

Realisasi Penggunaan Etanol masih Nihil

Dewan Energi Nasional (DEN) meminta pemerintah memberikan insentif fiskal untuk meningkatkan pemanfaatan bioetanol. Dalam rencana umum energi nasional (RUEN), penggunaan bioetanol ditargetkan mencapai 0,24 juta kiloliter pada tahun ini. Sementara itu, realisasinya masih nihil.

Anggota DEN Syamsir Abduh menyatakan, target bauran bioetanol dapat tercapai jika kebijakan harganya diatur. Misalnya, cukai bioetanol untuk fuel grade sebesar Rp 20 ribu per liter sebaiknya dihilangkan. Alasannya, bioetanol fuel grade berbeda dengan food grade. ”Selain itu, harus ada insentif untuk bea masuk,” kata Syamsir di Jakarta kemarin (12/10). 

Pembebanan cukai tersebut membedakan bahan bakar yang dicampur bioetanol dengan bahan bakar fosil biasa. DEN juga mengusulkan dibentuk badan yang bertugas mengumpulkan bioetanol yang diperuntukan bagi fuel grade. ”Ini juga memudahkan mengecek benarkah digunakan untuk bahan bakar atau bukan,” ujarnya. 

Bauran bahan bakar nabati (BBN) di Indonesia memang masih minim jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Indonesia tertinggal jauh ketimbang negara tetangga. Misalnya, Thailand yang bauran bioetanolnya mencapai 20 persen. Bahkan, Thailand memiliki nozzle khusus bioetanol 85 persen dan 100 persen di nozzle SPBU-nya.

Pengamat dari Indonesia Energy & Environmental Institute (IE2I) Agus Budi Hartono menilai pemerintah sebenarnya telah membebaskan cukai etanol untuk fuel grade. Namun, mekanisme untuk mendapatkan pembebasan tersebut masih rumit. ”Biaya pengurusan pembebasan tidak sebanding dengan harga jualnya,” ungkapnya. 

Lambatnya pelaksanaan program bauran BBN terhadap bahan bakar fosil telah mengakibatkan dua pabrik bioetanol di Indonesia tutup. Padahal, dua pabrik itu memiliki kapasitas produksi yang cukup besar. Yakni, 100 ribu kiloliter per tahun. 

Saat ini tinggal dua pabrik bioetanol dengan total kapasitas 40 ribu kiloliter. Yakni, PT Energi Agro Nusantara (anak usaha PTPN X) berkapasitas 30 ribu liter per tahun dan PT Molindo Raya. ”Dulu ada besaran subsidi, tetapi harganya masih belum menarik,” jelas mantan direktur PT Energi Agro Nusantara ini.

Pada 2010–2015 terdapat alokasi subsidi BBN sebesar Rp 1.500–Rp 3.000 per liter. Namun, kebijakan tersebut tidak dilanjutkan. Minimnya penerapan bioetanol untuk fuel grade membuat produsen menjual bioetanol ke industri lain.

Jika mandat penggunaan bioetanol bisa dilaksanakan, Indonesia akan kekurangan bioetanol. Namun, ada pabrik bioetanol fuel grade di Solo yang siap berproduksi jika ada kebutuhan. (*)

LOGIN untuk mengomentari.

Lowongan
© 2014 - 2017 Padek.co